Friday, January 18, 2013

Kisah Herjunot Ali



Baru pertama kali saya nonton film pas premiere. Ya si 5Cm ini, film yang diangkat dari novel Donny Dirghantoro, udah baca dari lama banget, makanya penasaran seperti apa ketika divisualkan. Apalagi publikasinya udah gede-gedean sampai roadshow ke kampus saya tempo hari.
Kepingin ke Semeru.
Kepingin ke Semeru.
Itu saya nonton di deret M, padahal si Harith antrinya dari jam 1 siang, lumayan sih, masih bisa nonton dengan normal biar muka pemain-pemainnya jadi besar sekali. Masih nggak masalah, soalnya yang main ganteng-ganteng dan cantik-cantik.
Cerita nggak jauh beda sama novel, ini yang saya suka, nggak kayak Perahu Kertas yang jauh sekali dari ekspektasi, mengecewakan sekali. Setting tempat juga nggak jauh dari perkiraan, pasti risetnya serius nih buat nyamain antara novel dan film.
Visual, checked.
Anak gunung super-stylish!
Anak gunung super-stylish!
Lanjut ke sinematografi. Saya emang bukan ahli sinematografi, tapi setidaknya saya tahu lah mana cara pengambilan gambar yang nggak membosankan. Nah, di 5cm ini, cara pengambilan gambarnya itu membosankan. Stagnan ada di kamera sebelah kiri dan mengarah ke kanan. Emang sih tujuannya buat ngasihtau kalo Semeru itu keren abis, bok! Ya tapi lumayan sih, capek juga mata liat pengambilan gambar yang itu-itu aja.
Sinematografi, checked.
Dialognya hampir sama persis sama di novel, nggak bisa bilang bagus atau enggak. Tapi ada yang janggal, bahasa tulis dan bahasa tutur kan beda ya? Makanya agak jijik aja ketika banyak kalimat yang harusnya cuma bagus di novel terus diucapin sama artis-artis itu. Misalnya:
“Saya Zafran, saya mencintai negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta ini.”
*Halo? Yang begituan masih  bisa divisualkan dengan gestur kan? Atau narasi deh minimal, tapi jangan kata-kata sepanjang apaan yang nggak semua orang di bioskop mau denger.
Dialog, checked.
Setting kamar Zafran cool abis!
Setting kamar Zafran cool abis!
Nggak banyak adegan yang diilangin, tapi lumayan bikin kecewa pas adegan Ian ngobrol sama layar komputer pas kerjain skripsi, itu kan lucu gila. Terus yang adegan Ian ketemu sama Hantu di Semeru, itu kan seru. Mungkin adegan hantu itu nggak diambil karena crew nggak mau ambil resiko kali, ya?
Emm, saya nonton ini film dari perspektif saya sebagai orang yang suka berkegiatan di alam. Makanya agak heran ketika ini orang-orang naik Semeru pake skinny jeans, bok? Skinny jeans! Wajar aja kalo Arial kena hipotermia. Terus itu carrier ringan amat sampe bisa lari-lari? Dan di Ranukumbolo setahu saya dingin parah, mereka ceceburan disitu. Waw.
Tapi saya kemudian sadar, bukan itu inti ceritanya, bukan naik gunungnya. Tapi bagaimana persahabatan bisa menyatukan semuanya, dan kalo orang naik gunung itu bakal ketahuan sifat aslinya gimana, bisa mempererat persahabatan.
Kisah cinta yang ada di dalamnya biar penting tapi kurang nendang, iyasih inti ceritanya emang bukan kisah cintanya. Si Zafran yang diperanin Herjunot Ali paling sukses bikin ketawa, apalagi ketika harus beradu peran sama Arinda yang diperanin Pevita Pearce yang punya karakter lugu-lugu begitu.
Itu Junot bikin mimisan.
Itu Junot bikin mimisan.
Mau protes, Riani-nya terlalu cantik menurut gue, dan mirip Manohara. Jadi sepanjang film gue malah mikirin Manohara, mana gaya ngomongnya mirip. Denny Sumargo yang meranin Arial kok kayak cowok lenje ya? Padahal harusnya kan strong abis. Genta yang diperanin Fedi Nuril udah pas sih, doi bisa banget meranin ekspresi orang jatuh cinta dan patah hati, matanya itu…hmmm, dia juga bisa megang peran leader yang ada di kelompok itu.
Karakter Ian udah pas, nggak ada yang nyangka kalo doi udah punya anak dua. Nggak tau gimana pendalaman perannya, tapi dia cocok jadi Ian. Cocok. Cocok!
*nggak penting, Tyas.
Overall, saya nggak nyesel nonton film ini. Jadi mainstream sesekali nggak apa-apalah. Apalagi di theater saya banyak ketemu temen yang anak gunung dari berbagai perhimpunan yang ada di Unpad. Jaranng-jarang kan liat anak gunung main-main ke mall dalam skala yang besar. Biasanya ya kita ketemu di tebing, atau puncak, terus masak bareng. Inimah ketemu di mall, makan di restoran cepat saji, terus nonton film. Epik, tapi seru. Hahaha.
Strategi pemasarannya kece, pake tanggal 12.12.12. Wajarlah kalo yang nonton sampe meledak begitu. Jatos aja sampe narik Life of Pi lebih awal. Nabung kali buat beli 5cm yang jelas lebih dicari :)
Pesan #1: Kencanlah di gunung.
Pesan #2: Kencanlah sama anak gunung. Seksi kok.
Pesan #3: Kalo mau deket sama anak gunung, silakan datang ke bioskop terdekat di kota Anda minggu ini.
Pesan #4: Jangan makan indomie pas naik gunung, bikin dehidrasi.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment